082225427456
082225427456
082225427456
D7701234

Apakah aborsi medis berbahaya?

Rabu, November 2nd 2016. | Umum

Aborsi medis yang dilakukan pada rentang waktu 9 minggu pertama kehamilan memiliki sedikit sekali resiko komplikasi. Resikonya sama besar dengan saat perempuan mengalami keguguran alami. Masalah seperti ini dapat ditangani oleh dokter dengan mudah. Dari 100 perempuan yang melakukan aborsi medis, 2 atau 3 perempuan harus pergi ke dokter atau layanan kesehatan darurat untuk menerima perawatan lebih lanjut. Di Negara dimana proses persalinan dianggap aman, 1 diantara 10.000 perempuan meninggal saat melahirkan. Sedangkan, kurang dari 1 diantara 100.000 perempuan yang melakukan aborsi medis meninggal. Hal ini membuat aborsi medis lebih aman dibanding proses persalinan, dan seaman keguguran spontan. Ini berarti bahwa aborsi aman dengan Mifepristone dan Misoprostol dapat menyelamatkan nyawa perempuan.

Sumber ilmiah:

Penelitian menunjukkan bahwa sedikit sekali komplikasi serius yang disebabkan oleh aborsi medis dibandingkan dengan angka perempuan yang sukses melakukan aborsi medis. Dalam segelintir kasus, intervensi bedah seperti kuret (vakum aspirasi) diperlukan, hal ini dapat dilakukan oleh fasilitas kesehatan yang biasa menangani kasus perempuan yang keguguran.

 

Lama Kehamilan % dari perempuan yang membutuhkan perawatan medis lebih lanjut
0- 49 hari (0-7 minggu) 2 %
40-63 hari (7-9 minggu) 2.5%
64-70 hari (9-10 minggu) 2.7%
71-77 hari (10-11 minggu) 3.3%

(Perawatan medis lanjutan termasuk vakum aspirasi untuk kehamilan yang berlanjut atau aborsi tidak lengkap.)

2 atau 3 dari 100 perempuan yang melakukan aborsi medis akan membutuhkan bantuan dokter setempat, puskesmas, atau rumah sakit untuk menerima perawatan lebih lanjut seperti vakum aspirasi. Resikonya sama dengan perawatan medis yang diperlukan saat mengalami reaksi alergi setelah penggunaan penisilin.

Aborsi medis dengan Mifepristone dan Misoprostol banyak digunakan di negara-negara Eropa. Di Perancis, sekitar 1.000.000 aborsi dilakukan dengan Mifepristone dan Misoprostol sejak 1992 dan tidak ada kasus kematian terjadi.

Pada Januari 2009, sekitar 1,000,000 perempuan di Amerika Serikat dan lebih dari 2 juta perempuan di Eropa telah menggunakan Mifepristone dengan Misoprostol untuk memicu aborsi, dan ada lima kasus kematian terkait penggunaan Mifepristone dalam aborsi medis.
Di tahun 2005 Badan Pangan dan Obat Amerika Serikat (FDA) mempublikasikan sebuah saran kesehatan masyarakat terkait penggunaan Mifepristone dan Misoprostol untuk aborsi medis. Di dalamnya, FDA menyatakan, “Resiko sepsis fatal pada perempuan yang melakukan aborsi medis sangat jarang (kira-kira 1 diantara 100.000). 

Kemungkinan kematian akibat aborsi medis kurang dari 1 diantara 100.000. Keguguran (disebut juga aborsi spontan) relatif sering terjadi terkait kehamilan, terjadi sekitar 15 dari 100 kehamilan. Angka kematian terkait dengan keguguran di AS juga kurang dari 1 kematian per 100.000 keguguran. Karena itu, angka kematian terkait dengan aborsi medis hampir sama dengan angka kematian dalam kasus keguguran.

Bandingkan angka kematian ini dengan kematian yang disebabkan oleh Viagra, obat yang dipakai untuk pengobatan disfungsi ereksi.
Awal tahun 2000, sekitar 11 juta resep dituliskan untuk Viagra. 564 pria meninggal karena pemakaian obat tersebut, menurut artikel yang dimuat the Journal of the American Medical Association. Berdasarkan jumlah resep yang dituliskan, angka kematian berkisar antara 1 dari 20,000 resep! Kebanyakan lelaki memperoleh lebih dari 1 resep, dan ini berarti angka kematian sebenarnya lebih tinggi daripada 1 dari 20,000 pengguna. Nampaknya, angka kematian terkait Viagra masih belum menjadi alasan untuk menarik obat ini dari pasaran.

Bandingkan angka kematian aborsi medis dengan angka kematian akibat penisilin. Reaksi fatal terhadap penisilin terjadi pada 1 kasus per 50,000-100,000 pengobatan. Hal ini berarti bahwa aborsi medis lebih aman dibandingkan pengobatan dengan penisilin.

Resiko yang dikaitkan dengan keguguran dan aborsi aman dan legal “pada intinya jauh lebih kecil dibandingkan dengan resiko melanjutkan kehamilan.”

Di banyak Negara, ada lebih banyak kematian terkait dengan persalinan dibanding aborsi yang dipacu. Angka riil kematian akibat aborsi yang dipacu jauh lebih kecil dibandingkan dengan angka yang tertera dalam chart dibawah ini. Hal ini disebabkan kematian yang terkait dengan aborsi yang dipacu masuk dalam kelompok kategori yang sama dengan keguguran dan kehamilan ektopik.

 

Negara Kematian akibat Keguguran, kehamilan ektopik, aborsi Kematian akibat Keguguran, kehamilan ektopik, aborsi per kelahiran hidup Kematian terkait kehamilan, tidak termasuk aborsi Kematian terkait kehamilan per kelahiran hidup
Perancis 2 1 dari 387,000 48 1 dari 16,000
Australia 0 0 dari 246,000 12 1 dari 21,000
Canada 1 1 dari 328,000 10 1 dari 33,000

Sumber: Database Kematian WHO, 2001

 

Meskipun komplikasi dapat terjadi, aborsi medis menggunakan layanan ini jauh lebih aman dibandingkan aborsi tidak aman di tempat yang sangat dibatasi. 19 juta aborsi tidak aman terjadi setiap tahun, dan 68,000 diantaranya berujung pada kematian perempuan. Ini berarti satu diantara 279 perempuan yang melakukan aborsi tidak aman mati sia-sia.
Untuk setiap 68,000 perempuan ini, terdapat 30 lebih (total 2,040,000 perempuan) yang menderita kesakitan dan kecacatan akibat aborsi tidak aman. Ini berarti 1 dari setiap 9 perempuan yang melakukan aborsi tidak aman menderita komplikasi jangka panjang yang tidak perlu.

Artikel lain Apakah aborsi medis berbahaya?