082225427456
082225427456
082225427456
D7701234

Kisah 7 Anak Indonesia di Kuba, Calon Dokter Peraih 'Beasiswa' Rp 60 Ribu Per Bulan

Jumat, Desember 9th 2016. | 1. Berita & Politik




Jakarta – Bagi sebagian orang Indonesia, Kuba bukan pilihan tepat untuk menempuh pendidikan tinggi. Selain faktor ekonomi-politik Kuba menganut sosialisme-komunisme, juga karena jarak. Namun di sana, ada tujuh anak Indonesia ‘pilihan’: belajar kedokteran dan beasiswa dengan nominal bisa dibilang tidak masuk akal.

5 Peso Kuba. Ya, beasiswa hanya 5 Peso Kuba atau setara Rp 60 ribu. Uang itu diberikan setiap bulan sebagai uang saku di luar subsidi biaya kuliah, asrama, dan ransum.

Detikcom bertemu dengan empat dari tujuh mahasiswa ‘pilihan’ itu di Wisma Indonesia atau rumah dinas Dubes Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) untuk Kuba, Alfred T Palembangan, Selasa (7/12/2016) malam waktu setempat. Mereka adalah Bella Ndolu (asal Jakarta), Naopal Fahmi Fauzan (Sukabumi), Santi Susanti (Sukabumi), dan Bunga Anisa (Cirebon). Bella dan Santi sudah hampir 2 tahun di Kuba, Bunga (1 tahun), sedangkan Naopal (3 bulan). Semua lulus SMA, mendaftar beasiswa, dan akhirnya memulai hidup di negara sosialis-komunis itu.

Para mahasiswa ini diundang ke Wisma Indonesia untuk berdialog dengan Wakil Ketua DPR, Fadli Zon dan tiga anggota DPR yakni Daryatmo Mardiyanto (PDIP), Ahmad Zacky Siradj (Partai Golkar), dan Muhammad Syafii (Gerindra). Total ada 55 WNI di Kuba, tapi malam itu hanya belasan yang hadir.

Kisah 7 Anak Indonesia di Kuba, Calon Dokter Peraih 'Beasiswa' Rp 60 Ribu Per BulanFoto: Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dan rombongan (Triono WS/detikcom)

Santi dkk belajar di Escuela Latinoameriana de Medicine (ELAM) di Havana, Ibu Kota Kuba. Mereka diharuskan menempuh pendidikan selama tujuh tahun. Satu tahun pertama belajar bahasa Spanyol, bahasa resmi Kuba, dua tahun berikutnya belajar sains dan kedokteran sambil praktik di poliklinik, dan empat tahun terakhir berupa internship atau semacam praktik lapangan di provinsi tertentu.

Nah, tiga mahasiswa yang tak hadir di Wisma Indonesia saat ini tengah menjalani program internship itu, jauh dari Havana. Mereka adalah Wildan Abdurrahman, Devy Rosmala Dewi, dan Fauza Azima Zukra.

Tak ada fasilitas mewah untuk para mahasiswa ELAM. Apalagi bagi mahasiswa peraih beasiswa. Mereka harus hidup mandiri.

“Sulit sih. Hidup ala kadarnya. Karena itu kalau diundang Pak Dubes seperti ini, seneng. Minimal ada makanan Indonesia,” kata Santi kepada detikcom sambil tertawa malu.

Gadis berjilbab ini mengatakan, pendidikan di ELAM berbeda dibanding kampus lain di dunia. Apalagi jika dibandingkan dengan kampus di Indonesia. Mahasiswa dituntut hidup dalam keterbatasan dan mengenyam ‘ideologi’ bahwa dokter adalah tugas kemanusiaan, bukan sekadar profesi.

“Kemanusiaan itu selalu ditekankan. Kami tidak boleh berpikir ingin menjadi kaya, memasang tarif, atau yang bersifat materi,” tutur Santi.

Bunga menambahkan, dokter di Kuba benar-benar mementingkan kemanusiaan. Tak hanya untuk rakyat Kuba, tapi juga negara lain. Saat gempa Yogyakarta tahun 2006 silam, dokter Kuba dikirim ke Indonesia. Disebut-sebut, mereka datang paling awal dan pulang paling akhir.

“Nah nanti, meski setelah kami lulus bebas memilih masa depan, bisa saja saya atau kami dikirim ke negara lain untuk tugas kemanusiaan,” tutur gadis bertubuh mungil ini.

Santi, Bella, Naopal, dan Bunga sangat antusias menyampaikan curhat. Mulai dari keseharian di kampus, koneksi internet yang sangat terbatas, dan kehidupan rakyat Kuba yang serba diatur pemerintah sehingga tak semua barang dijual bebas. Keterbatasan itu bagi mereka adalah tantangan. Belum tentu mereka bisa pulang 1-2 tahun sekali untuk bertemu keluarga.

“Biayanya (perjalanan) mahal,” kata Naopal.

Kuba terletak di Karibia, dekat Miami, Amerika Serikat, dan terdiri dari 15 provinsi. Jaraknya dari Indonesia belasan ribu kilometer. Dapat dijangkau setelah terbang lebih dari 24 jam.

Jauh dari Tanah Air dan keluarga, Santi dkk tetap tegar dan semangat. Kehidupan Kuba yang serba terbatas membuat mereka bersyukur dan bangga menjadi Indonesia. Kami pasti pulang, kata mereka seolah meneguhkan kecintaan ke bangsa dan negara.

(try/dnu)

Artikel lain Kisah 7 Anak Indonesia di Kuba, Calon Dokter Peraih 'Beasiswa' Rp 60 Ribu Per Bulan