082225427456
082225427456
082225427456
D7701234

Menteri Nasir: Untuk Pendidikan Vokasi, Dosen Boleh Tidak Lulusan S2

Kamis, Desember 8th 2016. | 1. Berita & Politik

Menteri Nasir: Untuk Pendidikan Vokasi, Dosen Boleh Tidak Lulusan S2Menristek Dikti M Nasir. Foto: Rachman Haryanto/detikcom



Jakarta – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M Nasir mengungkapkan bahwa berencana meningkatkan kualitas pendidikan vokasi. Menurutnya, dosen tidak harus lulusan S2.

Dosen untuk perguruan tinggi vokasi menurutnya bisa berasal dari profesional yang hanya lulusan S1 dengan persyaratan yang telah ditentukan. Kemenristek Dikti menjalankan sistem pemisahan pendidikan vokasi dengan perguruan tinggi.

“Bukan tidak S2, tapi dosen itu boleh yang tidak S2. Itu nanti kalau masuk di perguruan tinggi khususnya di pendidikan vokasi. Nanti harapan saya vokasi itu 50 persen dari akademisi yang pendidikannya minimal S2 dan nanti 50 persen dari industri yang saya tidak syaratkan S2 tapi saya syaratkan adalah mempunyai kompetensi level 8 (dari Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia),” ujar Nasir di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (7/12/2016).

Nasir meminta dosen non S2 tersebut memenuhi kualifikasi dari Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Yaitu kualifikasi sertifikasi bagi para pekerja dengan level berjenjang mulai dari 1 hingga 9. Level 5 setara dengan diploma, level 6 setara dengan sarjana, level 7 setara profesi, level 8 setara dengan S-2 dan level 9 setara dengan gelar doktor. Ia juga mengatakan tidak memberlakukan kebijakan tersebut pada semua perguruan tinggi.

“Nanti ke pendidikan vokasi. Secara khususnya ke vokasi saja,” tambahnya.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi, Nasir juga berencana mengundang 500 Guru Besar Perguruan Tinggi Dunia ke Indonesia. Hal ini bertujuan untuk membuat daya saing mahasiswa di Indonesia dapat dihargai di tingkat dunia.

“Tujuannya adalah kita harus bagaimana PT (perguruan tinggi) di Indonesia menjadi kelas dunia. Kalau kita tidak melakukan itu, kita tidak masuk kelas dunia, kita tidak dihargai tingkat dunia. Bayangkan kita punya 1.405 PT. Hanya dua yang masuk kelas dunia. Itu pun di angka buncit,” jelas Nasir.

Saat ini menurutnya, masih dipersiapkan Perguruan Tinggi untuk mendukung kebijakan tersebut. Dia menekankan kolaborasi tersebut berkaitan dengan jurusan Sain dan Teknologi.

“Semua perguruan tinggi S3 akan kita siapkan dulu. Karena tidak semua Perguruan tinggi punya program S3. Terutama yang kita siapkan yaitu Sains Technology Manufacture Engineering. Ini yang akan kami dorong terus nanti kalau ini sudah kami dorong. Nanti akan menjadi kolaborasi menjadi tingkat dunia,” tukasnya.

(fdu/elz)

Artikel lain Menteri Nasir: Untuk Pendidikan Vokasi, Dosen Boleh Tidak Lulusan S2